PENANGANAN CARA MENGGOSOK GIGI SESUAI DENGAN USIA

PENANGANAN CARA MENGGOSOK GIGI SESUAI DENGAN USIA

PENANGANAN CARA MENGGOSOK GIGI SESUAI DENGAN USIA

 Menyikat gigi dengan menggunakan sikat gigi adalah bentuk penyingkiran plak secara mekanis. Saat ini telah banyak tersedia sikat gigi dengan berbagai ukuran, bentuk, tekstur, dan desain dengan berbagai derajat kekerasan dari bulu sikat. Salah satu penyebab banyaknya bentuk sikat gigi yang tersedia adalah adanya variasi waktu menyikat gigi, gerakan menyikat gigi, tekanan, bentuk dan jumlah gigi pada setiap orang.

Terdapat 5 metode menyikat gigi yaitu, Bass, S Stillman, Horizontal, Vertical, dan Roll. Metode Bass dan Roll yang paling sering direkomendasikan.Metode yang umum digunakan adalah meode horizontal, metode roll, dan metode vertical.
 Metode horizontal dilakukan dengan cara semua permukaan gigi disikat dengan gerakan ke kiri dan ke kanan. Permukaan bukal dan lingual disikat dengan gerakan ke depan dan ke belakang.Metode horizontal terbukti merupakan cara yang sesuai dengan bentuk anatomis permukaan oklusal. Metode ini lebih dapat masuk ke sulkus interdental dibanding dengan metode lain. Metode ini cukup sederhana sehingga dapat membersihkan plak yang terdapat di sekitar sulkus interdental dan sekitarnya.
Metode vertical dilakukan untuk menyikat bagian depan gigi, kedua rahang tertutup lalu gigi disikat dengan gerakan keatas dan kebawah. Untuk permukaan gigi belakang gerakan dilakukan dengan keadaan mulut terbuka. Metode ini sederhana dan dapat membersihkan plak, tetapi tidak dapat menjangkau semua bagian gigi seperti metode horizontal dengan sempurna sehingga apabila penyikatan tidak benar maka pembersihan plak tidak maksimal.
  Metode roll adalah cara menyikat gigi dengan ujung bulu sikat diletakkan dengan posisi mengarah ke akar gigi sehingga sebagian bulu sikat menekan gusi.3 Ujung bulu sikat digerakkan perlahan-lahan sehingga kepala sikat gigi bergerak membentuk lengkungan melalui permukaan gigi. Yang perlu diperhatikan pada penyikatan ini adalah sikat harus digunakan seperti sapu, bukan seperti sikat untuk menggosok. Metode roll mengutamakan gerakan memutar pada permukaan interproksimal tetapi bagian sulkus tidak terbersihkan secara sempurna. Metode roll merupakan metode yang danggap dapat membersihkan plak dengan baik dan dapat menjaga kesehatan gusi dengan baik, teknik ini dapat diterapkan pada anak umur 6-12 tahun.
Metode penyikatan gigi horizontal, vertical dan roll adalah metode yang paling sering digunakan dalam penyikatan gigi. Pada anak sekolah dasar belum didapatkan teknik menyikat gigi yang efektif terhadap penurunan plak. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas menyikat gigi metode horizontal, vertical dan roll pada anak usia 9-11 tahun di SDN Pemurus Dalam 6 Banjarmasin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas menyikat gigi mengunakan metode horizontal, vertical dan roll pada anak usia 9-11 tahun di SDN Pemurus Dalam 6 Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian pendahuluan yang nantinya diharapkan metode menyikat gigi lainnya dapat diterapkan pada anak-anak usia sekolah dasar.


USIA 0-1 TAHUN

Teknik :

  • Membalut sebatang kayu berbentuk persegi atau lonjong dengan kain yang dibasahi dengan air hangat.
  • Selain itu dapat pula dengan menggunakan jari telunjuk yang dibalut kain atau handuk basah (yang dibasahi dengan air hangat), kemudian digosokkan pada gigi yang sedang erupsi dan secara lembut melakukan pemijatan gusi.

Usia 1-3 tahun

  • Ukuran sikat gigi disesuaikan dengan ukuran mulut anak. Sikat gigi yang dapat digunakan adalah sikat gigi manual maupun elektrik.
  • Bagi anak di bawah usia tiga tahun hendaknya penyikatan gigi masih dilakukan oleh orang tua.
  • Anak di atas usia dua tahun sudah dapat diajarkan cara menyikat gigi.
  • Pada tahap pertama hendaknya orang tua memberikan contoh pada anak cara melakukan penyikatan setelah itu anak diminta untuk mengikuti.
  • Pemakaian pasta gigi sudah dapat dimulai pada usia dua tahun.

 

USIA 1-3 TAHUN:

  • Posisi yang mudah untuk melakukan penyikatan gigi pada usia ini adalah posisi lap to lap. Pada posisi ini dua orang duduk saling berhadapan dengan lutut saling bertemu. Anak diletakkan di atasnya dengan posisi menghadap ke atas.
  • Gerakan tangan dan tubuh ditahan oleh tangan orang yang memangku, sementara orang yang satu lagi melakukan penyikatan gigi.

 

USIA 3-6 TAHUN

  • Cara melakukan penyikatan gigi yang mudah dan dapat dilakukan sendiri oleh anak adalah metode Fones. Penyikatan gigi dilakukan dengan gerakan memutar pada gigi anterior maupun posterior.

Teknik :

  • Posisi yang mudah saat mengajarkan cara menyikat gigi yaitu orang tua berdiri saling berdampingan di depan cermin.
  • Kepala anak disandarkan pada tangan orang tua. Dagu anak ditarik ke bawah dengan menggunakan tangan tempat bersandarnya kepala anak.
  • Sedangkan tangan orang tua yang satu lagi memandu tangan anak untuk melakukan penyikatan gigi.

qPosisi lain yang juga dapat dilakukan adalah orang tua dan anak berdiri salingberhadapan. Kemudian tangan orang tua memandu tangan anak untuk melakukan penyikatan gigi.

qKerugian posisi ini adalah kurangnya pengendalian gerakan terhadap posisi anak

USIA 6-12 TAHUN

  • Teknik penyikatan gigi yang dapat diterapkan pada anak usia ini adalah teknik
  • Bantuan orang tua dibutuhkan apabila anak mendapatkan kesulitan saat melakukan penyikatan pada posisi gigi yang sulit, misal bagian bukal rahang atas dan rahang bawah.

Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius dari tenaga kesehatan, baik dokter gigi maupun perawat gigi, hal ini terlihat bahwa penyakit gigi dan mulut masih diderita oleh 90% penduduk Indonesia. Berdasarkan teori Blum, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu keturunan, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Perilaku memegang peranan yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut.

Karies merupakan penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, mulai dari permukaan gigi hingga meluas ke arah pulpa.3 Menurut penelitian di negara-negara Eropa, Amerika, dan Asia, termasuk Indonesia, 80%-90% anak-anak dibawah umur 18 tahun terserang karies gigi.Berdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 Departemen Kesehatan yang dirilis pada 2009 mengungkapkan bahwa proporsi penduduk yang bermasalah dengan gigi dan mulut di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 29,2%, hasil ini tertinggi di Kabupaten Barito Kuala dan Banjarmasin.5 Prevalensi menggosok gigi terendah ada di Hulu Sungai Selatan. Prevalensi penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 10,3%.

Alat yang di perlukan untuk penelitian ini antara lain alat diagnosis (kaca mulut, sonde, pinset, eksavator), nierbeken, baskom, air, kapas, handuk putih kecil, stopwatch, model gigi, dan senter. Bahan yang diperlukan untuk penelitian ini antara lain disclosing agent, pasta gigi, sikat gigi Haryanti : Efektivitas Menyikat GiGi berbulu halus (soft), alkohol 70% (untuk sterilisasi alat), penelitian ini juga menggunakan lembar pengukuran Personal Hygiene Performance Modified (PHPM).
Metode yang dipakai Quasi Experimental, dengan rancangan Pre-Post Test one group design. Pengumpulan data dilakukan pada pelajar kelas 4-6 SD di SDN Pemurus Dalam 6 Banjarmasin yang sudah memiliki gigi kaninus, premolar, dan molar dalam keadaan baik (tidak ada karies) sebanyak 30 orang tiap kelompok. Pelajar diberi penyuluhan cara menyikat gigi selama 10 menit dan didemonstrasikan dengan model gigi, materi penyuluhan tentang cara memegang sikat gigi, posisi meletakkan sikat gigi, dan metode menyikat gigi. Setiap 10 orang anak dalam tiap kelompok dioleskan disclosing agent pada seluruh permukaan gigi secara merata lalu diinstruksikan untuk kumur-kumur, dengan menggunakan kaca mulut dan sonde diperiksa indeks plak, dengan indeks ukur PHPM (Personal Hygiene Performance Modified).
Analisis data yang dilakukan adalah analisis data parametrik. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov dan uji homogenitas menggunakan Levene Test. Analisis parametrik dengan menggunakan uji hipotesis One Way Annova.


PEMBAHASAN


        Menyikat gigi sebagai salah satu kebiasaan dalam upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Berbagai teknik atau metode menyikat gigi yang pernah dianjurkan, antara lain horizontal, vertical, dan roll. Ketiga metode ini dianggap dapat membersihkan plak dengan baik terutama pada anak-anak pada masa sekolah.
Menyikat gigi dengan menggunkan sikat gigi adalah bentuk penyingkiran plak secara mekanis.Banyak metode atau teknik menyikat gigi yang diperkenalkan para ahli, dan kebanyakan metodenya dikenal dengan namanya sendiri seperti metode Bass, Stillman, Charters, atau disesuaikan dengan gerakannya. Pada prinsipnya terdapat empat pola dasar gerakan, yaitu metode vertical, horizontal, roll, dan bergetar (vibrasi). Tujuan menyikat gigi untuk menyingkirkan plak atau mencegah terjadinya pembentukan plak, membersihkan sisa-sisa makanan, debris atau stein. Metode menyikat gigi yang dipakai dalam penelitian ini yaitu, horizontal, vertical dan roll.  Hasil penelitian tentang efektivitas menyikat gigi metode horizontal, vertical dan roll terhadap penurunan plak pada anak usia 9-11 tahun di SDN Pemurus Dalam 6 Banjarmasin menunjukkan bahwa penyikatan gigi dengan metode horizontal dapat menurunkan indeks plak lebih besar dibandingkan metode vertical dan roll. Dari penelitian ini ditemukan bahwa metode menyikat gigi horizontal lebih efektif menurunkan plak dibandingkan dengan metode yang lain. Hasil penelitian ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anaise dan pendapat dari Tan HH yang menyatakan bahwa teknik horizontal dianggap sebagai teknik terbaik untuk menghilangkan plak dan mudah ditiru atau dipelajari oleh anak. Menurut penelitian dari Sarika Sarma (2012) menyatakan bahwa metode menyikat gigi horizontal cocok digunakan pada anak-anak.12 Penelitian dari Natalia Ekaputri dan Sri Lestari tentang perbedaan efektifitas penyikatan gigi antara metode roll dan horizontal terhadap penyingkiran plak pada anak menunjukkan penurunan indeks plak pada metode roll lebih besar dari teknik horizontal. Metode vertical dan roll tidak dapat menurunkan indeks plak lebih besar dibandingkan dengan metode horizontal karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kemampuan untuk melakukan teknik menyikat gigi secara baik dan benar sesuai yang di ajarkan pada setiap anak berbeda-beda, tekanan yang diberikan pada saat menyikat gigi berbeda-beda,dan kebiasaan menyikat gigi yang berbeda.
Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggungjawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka; asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika seseorang anak memasukkan pengetahuan baru kedalam penetahuan yang sudah ada. Dalam asimilasi, anak mengasimilasikan lingkungan kedalam suatu skema. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru. Yakni, anak menjesuaikan skema mereka dengan lingkungannya.13 Melalui observasinya, Piaget juga meyakini bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam empat tahap. Masing-masing tahap berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbedabeda. Tahapan Piaget terbagi menjadi empat tahapan yaitu, fase sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal.
Tahap sensorimotor. Tahap ini yang berlangsung sejak kelahiran sampai usia dua tahun. Dalam tahap ini, bayi menyusun pemahaman dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman indera (sensory) mereka seperti melihat dan mendengar dengan gerakan motor (otot) mereka, dari sanalah diistilahkan sebagai sensorimotor.

Tahap praoperasional. Tahap ini adalah tahap kedua pada teori Piaget. Tahap ini berlangsung kurang lebih mulai dari usia dua tahun samapai tujuh tahun. Ini adalah tahap pemikiran yang lebih simbolis daripada tahap sensorimotor tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional. Pada tahap ini anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata dan gambar.

Tahap operasional konkret. Ini adalah tahap perkembangan kognitif ketiga dari teori Piaget, dimulai dari sekitar umur tujuh tahun sampai sekitar sebelas tahun. Pemikiran operasional konkret mencakup penggunaan operasi. Penalaran logika, kemampuan untuk menggolong-golongkan sudah ada, tetapi tidak bisa memecahkan problemproblem abstrak.pada tahap ini anak kini bisa menalar secara logis tentang kejadian-kejadian dan mampu mengklasifikasikan objek dalam kelompok yang berbeda-beda.
Tahap operasional formal. Tahap ini yang muncul antara usia sebelas tahun sampai lima belas tahun, adalah tahap keempat menurut teori Piaget dan tahap kognitif terakhir. Pada tahap ini, individu sudah mulai memikirkan pengalaman dan remaja sudah mulai berpikir secara lebih abstrak, idealistis, dan logis.Penelitian ini rata-rata murid di SDN Pemurus Dalam 6 Banjarmasin yang diteliti berada pada tahap operasional konkret dengan umur 9-11 tahun. Anak sudah dapat menalar dengan logikanya. Anak mulai dapat beradaptasi dan mengerti pada setiap metode yang diajarkan. Jenis kelamin pada penelitian ini tidak berpengaruh karena pada tahap ini anak baru bisa menalar secara logis dan masih rendahnya kesadaran akan Haryanti : Efektivitas Menyikat Gigi  pentingnya kesahatan gigi sehingga jenis kelamin tidak memiliki pengaruh.
Faktor lain yang terkait disebabkan anak lebih cepat mengerti dan cenderung lebih mudah menyikat gigi dengan metode horizontal dibandingkan menyikat gigi dengan metode yang lain. Hal ini juga terkait dengan kebiasaan anak menyikat gigi di rumah, dimana seringkali secara tidak sadar anak-anak lebih cenderung menggunakan metode horizontal sehingga anakanak lebih mengerti ketika diajarkan cara menyikat gigi metode horizontal.

 TERIMAKASIH

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anitasari S dan Rahayu NE. Hubungan Frekuensi Menyikat Gigi Dengan Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Palaran Kotamadya Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Maj. Ked. Gigi, 2005. hal 88.
  2. Notoatmodjo S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Edisi 1. Jakarta: Rineka Cipta, 2003. hal 5-8.
  3.  Rifki A. Perbedan Efektivitas Menyikat Gigi dengan Metode Roll dan Horizontal pada Anak Usia 8 dan 10 Tahun di Medan. Tesis. Medan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, 2010. hal 1-9.
  4. Utami NK. Indeks DMF-T pada Murid-Murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Martapura 2010. Dentino Jurnal Kedokteran Gigi 2010; 2(1) :1-2.
  5. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2009. hal:116-117.
  6. Warni L. Hubungan Perilaku Murid SD Kelas V dan VI pada Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Status Karies Gigi di Wilayah Kecamatan Delitua Kabupaten Deli Tahun 2009. Tesis. Medan : USU, 2009. hal 14-20.
  7. Asadoorian J. Tooth Brushing. Canada: Canadian Journal of Dental Hygiene (CJDH), 2006;5:1-4.
  8. Putri MH, Herijulianti E dan Nurjannah N. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta: EGC, 2010: 56-76, 107-118.
  9. McDonal, Avery and Dean. Dentistry for The Child and Adolescent 8th ed. St.Louis: Mosby, 2000.p.237-245.
  10. Pintauli S dan Hamada T. Menuju Gigi dan Mulut Sehat. Skripsi. Medan: USU, 2008: 4-6, 30-1,74-81.
  11. Ekaputri N dan Lestari S. Perbedaan Efektivitas Penyikatan Gigi antara Teknik Roll dan Horizintal Scrubbing terhadap Penyingkiran Plak. Scientific Journal in Dentistry 2003; 53: 93-7.
  12. Sharma Sarika, Ramakrishna Yeluri, Amit A. Jain and Autar K. Munshi. Effect of toothbrush grip on plaque removal during manual toothbrushing in children. J Oral Sci. 2012;2(54):187.
  13.  Santrock, JK. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana. 2007.hal:55-60.
  14. Dewi, O. 2003. Pemilihan Sikat Gigi Individual. Dentika Dental Journal. 8(1): 54-60
  15. Newman MG., Takei HH., Carranza FA. 2010. Carranza’s Clinical Periodontology. 10th Ed. Philadelphia: WB. Saunders Co.
  16. 16.Putri MH., Herijulianti E., Nurjannah N. 2010. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. Editor Lilian Juwono. Jakarta: EGC.
  17. 17.Rateitschak EM., Wolf HF., Hassel TM. 1985. Color Atlas of Periodontology. New York: Thieme Inc.
  18. Riyanti, E. 2005. Pengenalan dan Perawatan Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini. Seminar Sehari Kesehatan-Psikologi Anak. Bandung.

 

 

Prosedur Cara Perawatan Mulut dan Gigi

Prosedur Cara Perawatan Mulut dan Gigi

Prosedur Perawatan Mulut dan Gigi

Perawatan mulut dan gigi merupakan tindakan pada pasien dengan cara membersihkan serta menyikat gigi dan mulut secara teratur. tindakan ini dilakukan pada pasien yang tidak mampu mempertahankan kebersihan mulut dan gigi. Tujuan prosedur ini adalah mencegah infeksi pada mulut akibat kerusakan pada daerah gigi dan mulut, membantu menambah nafsu makan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut.

Persiapan alat dan bahan

  1. anduk dan kain pengalas
  2. gelas kumur berisi :
    • air masak/NaCI
    • obat kumur
    • boraks gliserin
  3. spatel lidah telah dibungkus dengan kain kasa
  4. kapas lidi
  5. bengkok
  6. kain kasa
  7. pinset atau arteri klem
  8. sikat gigi dan pasta gigi

Cara pelaksanaan :

Untuk Pasien tidak sadar

  1. Jelaskan prosedur pada pasien walaupun pasien tidak sadar
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi dengan posisi tidur miring kanan / kiri
  4. Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang dibasahi air hangat / masak
  5. Gunakan tong spatel (sudip lidah) untuk membuka mulut pada saat membersihkan gigi / mulut
  6. Lakukan pembersihan dimulai dari dinding rongga mulut, gusi, gigi dan lidah
  7. Keringkan dengan kasa steril yang kering
  8. Setelah bersih, oleskan Borax Gliserin
  9. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Untuk Pasien sadar tetapi tidak mampu melakukan sendiri

  1. Jelaskan prosedur pada pasien
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi pasien duduk
  4. Pasang handuk di bawah dagu
  5. Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang dibasahi air hangat / masak
  6. Kemudian bersihkan pada daerah mulut mulai rongga mulut, gusi, gigi dan lidah. Lalu bilas dengan larutan NaCl
  7. Setelah bersih, oleskan Borax Gliserin
  8. Untuk perawatan gigi, lakukan penyikatan dengan gerakan naik-turun
  9. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan